![]() |
| Sambutan Kepala Kantor Kemenag Kota Semarang, khataman kitab majelis Kopikhas, Jumat(04/09/2026) |
NuNgaliyan.com-Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ngaliyan menyelenggarakan pengajian bertema “Kopikhas” sebagai ruang silaturahmi, penguatan keilmuan, dan konsolidasi khidmah warga Nahdliyin. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Kyai Sadullah As-Sodiqy yang mengisi khataman kitab serta Dr. H. Muhtasid selaku “Wazir suun addiniyah madinati semarang” yang menyampaikan materi tentang MUKIDI dan pengelolaan wakaf NU.
Pengajian berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Para peserta mengikuti rangkaian acara dengan antusias, mulai dari pembacaan istighisah, tahlil yang dipimpin kyai Nur Adhim dan doa yang dipimpin kyai Ahmad Basri, pengajian kitab oleh Gus Sadullah Assodiq, hingga penyampaian materi penguatan kelembagaan dan pemberdayaan aset uma oleh Bapak Kepala kantor kementerian Agama kota Semarang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya MWCNU Ngaliyan dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus memperkuat peran organisasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Khataman Kitab Bersama Kyai Sadullah As-Sodiqy
Sesi khataman kitab yang dipimpin oleh Kyai Sadullah As-Sodiqy menjadi salah satu inti kegiatan. Melalui pembacaan dan penjelasan kitab, peserta diajak kembali meneguhkan tradisi intelektual Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang selama ini menjadi ruh perjuangan Nahdlatul Ulama.
Kyai Sadullah As-Sodiqy menekankan pentingnya menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Tradisi mengaji kitab tidak hanya menjadi kegiatan membaca teks, tetapi juga sarana membentuk adab, memperdalam pemahaman agama, dan menanamkan nilai tawaduk dalam kehidupan sehari-hari.
Khataman kitab tersebut juga menjadi simbol penghormatan terhadap warisan ulama. Melalui kegiatan semacam ini, nilai-nilai keislaman yang bersumber dari kitab-kitab turats tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Materi MUKIDI dan Pengelolaan Wakaf NU oleh Dr. H. Muhtasid (Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang)
Sesi berikutnya diisi oleh Dr. H. Muhtasid dengan materi tentang MUKIDI dan pengelolaan wakaf NU. Penyampaian materi ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kesadaran warga Nahdliyin terhadap pengelolaan potensi umat secara profesional, amanah, dan berkelanjutan.
Dr. H. Muhtasid menjelaskan bahwa penguatan kelembagaan NU perlu ditopang oleh gerakan yang terstruktur, partisipatif, dan memiliki orientasi kemaslahatan. MUKIDI dipaparkan sebagai gagasan dan gerakan yang berkaitan dengan penguatan kemandirian, jejaring, serta tata kelola potensi umat agar lebih produktif.
Selain itu, materi pengelolaan wakaf NU memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendataan, legalitas, pemanfaatan, dan pengembangan aset wakaf. Wakaf tidak hanya dipahami sebagai bentuk amal jariyah, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan umat apabila dikelola dengan manajemen yang baik.
Pengelolaan wakaf yang tertib dapat mendukung berbagai program keumatan, seperti pendidikan, dakwah, layanan sosial, pengembangan ekonomi, dan penguatan sarana ibadah. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pengurus NU, nadzir, tokoh masyarakat, dan warga Nahdliyin agar aset wakaf dapat memberikan manfaat yang luas.
Menguatkan Tradisi dan Menjawab Tantangan Zaman
Pengajian “Kopikhas” MWCNU Ngaliyan menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan dan penguatan kelembagaan dapat berjalan beriringan. Khataman kitab menjadi fondasi spiritual dan keilmuan, sementara materi MUKIDI serta pengelolaan wakaf NU menjadi bekal praktis dalam membangun kemandirian jam’iyah.
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya forum pengajian sebagai pusat edukasi masyarakat. Di dalamnya terdapat ruang untuk memperdalam agama, memperkuat silaturahmi, dan menyatukan langkah dalam mengabdi kepada umat.
Melalui tema “Kopikhas”, MWCNU Ngaliyan menghadirkan suasana pengajian yang akrab, segar, dan sarat makna. Kehadiran para peserta menunjukkan bahwa semangat ngaji, berkhidmah, dan membangun kemandirian umat masih terus tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Harapan untuk Khidmah NU di Ngaliyan
Kegiatan pengajian ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya gerakan lanjutan di tingkat ranting, lembaga, dan badan otonom NU.
Penguatan pemahaman kitab, pengelolaan wakaf, serta konsolidasi potensi umat menjadi modal penting dalam memperbesar manfaat NU di tengah masyarakat.
MWCNU Ngaliyan melalui kegiatan semacam ini terus meneguhkan komitmen untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, memperkuat organisasi, dan mengembangkan program-program kemaslahatan. Dengan sinergi yang kuat, khidmah NU dapat semakin nyata, terarah, dan dirasakan oleh masyarakat luas.
Sementara itu kyai Agus Chunaifi menambahkan pentingnya Mejelis Kopikhas tidak hanya bahsul masail satu arah, namun situasi di lingkungan masyarakat juga sering sebagai bahasan untuk bahsul masail yang dapat di diskusikan diantara peserta Kopikhas.




