![]() |
| Dokumentasi Kyai Anasom saat isi uraian hikmah rangkaian Maulid Diba' di MRB (Kamis, 20/08/2026) |
Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti ruang utama Masjid Raya Baiturrahman, Jawa Tengah, pada pelaksanaan pengajian memperingati bulan kelahiran Rasulullah SAW (8 Rabiul Awal 1448 H / 20 Agustus 2026 M). Acara diawali dengan sambutan dari Takmir Masjid Raya Baiturrahman serta pembacaan sholawat bersama seluruh jamaah rohimakumullah yang hadir memadati area majelis.
Lantunan sholawat terdengar mengalun syahdu, membuka jalan bagi penceramah karismatik, KH. Anashom, untuk menyampaikan uraian hikmah mengenai keagungan pribadi Rasulullah SAW.
Muhammadun Basyarun La Kal Basyari
Mengawali tausiyahnya, KH. Anashom mengutip bait syair mahsyur yang menggambarkan hakikat keagungan Nabi Muhammad SAW:
Ù…ØÙ…د بشر لا كالبشر بل هو كالياقوت بين Ø§Ù„ØØ¬Ø±
"Muhammadun basyarun la kal basyari, bal huwa kal yaquti baina al-hajari"
Artinya: Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia, tetapi tidak seperti manusia biasa. Beliau bagaikan batu permata (yakut) di antara bebatuan biasa.
secara fisik dan lahiriah, Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagai seorang basyar (manusia). Hikmah di balik diutusnya seorang manusia sebagai Nabi adalah agar beliau dapat menjadi teladan nyata (uswatun hasanah) yang bisa disaksikan dan ditiru oleh umatnya.
"Kabeh ketok koyo manusia," tutur Kiai Anashom dengan gaya bahasa khas Jawa. Sebagai manusia, Kanjeng Nabi juga makan, minum, tidur, dan berkeluarga. Beliau tidak diutus berupa malaikat, sebab jika berupa malaikat, manusia tentu tidak akan sanggup meneladaninya. Namun, meskipun beliau tidur, kualitas ibadah dan kesadarannya jauh berbeda dengan kita. "Awake dhewe turu, santri akeh turune," kelakar Kiai Anashom yang disambut senyum hangat para jamaah.
Kesederhanaan dan Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah
KH. Anashom kemudian mengulas perjalanan kehidupan rumah tangga Kanjeng Nabi:
Pernikahan Pertama & Kesetiaan: Kanjeng Nabi menikah pada usia 25 tahun dengan Ibunda Siti Khadijah RA yang berusia 40 tahun. Selama mengarungi bahtera rumah tangga bersama Siti Khadijah, Rasulullah SAW sangat setia dan tidak menduakan cintanya hingga Khadijah wafat.
Pernikahan Setelah Wahyu: Setelah Siti Khadijah wafat dan beliau diangkat menjadi Rasul, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk menikah lagi demi kepentingan dakwah dan perlindungan sosial, di antaranya dengan Ibunda Siti Aisyah RA (putri Abu Bakar RA yang sangat cerdas), Siti Saudah RA, Siti Juwariyah RA, dan istri-istri lainnya. Pernikahan tersebut dilakukan atas dasar perintah syiar agama, bukan hawa nafsu.
Kesederhanaan Hidup: Kanjeng Nabi sangat sedikit makan (dhahar sithik). Berbeda dengan kita yang sering kali "shik sithik mangan" (sebentar-sebentar makan).
Kediaman yang Bersahaja: Rumah (dalem) beliau yang berjejer dengan masjid hanya berukuran sekitar 5 x 4 meter dengan emperan yang bersahaja. Hal ini mengajarkan bahwa rumah megah (magrong-magrong) bukanlah ukuran kemuliaan maupun sunnah yang harus dikejar, melainkan kebersihan hati dan kesederhanaan.
Sifat Khashoish: Mutiara di Antara Bebatuan
Meski beliau adalah manusia, ada sifat khusus (Khashoish / lakal basyar) yang tidak bisa kita ikuti. Hal inilah yang dimaksud dalam kiasan bal huwa kal yaquti baina al-hajari. Batu biasa dapat ditemukan di mana saja dan tidak bernilai tinggi, tetapi batu permata yakut sangat langka, mahal, dan berkilau indah.
Nabi Muhammad SAW menjadi luar biasa karena beliau menerima wahyu (yuha) dari Allah SWT. Segala langkah, keputusan, dan tingkah laku beliau senantiasa tertata dan dibimbing oleh revelation Ilahi.
Pengaruh Peradaban Tercepat dalam Sejarah Dunia
Kehebatan Rasulullah SAW juga diakui oleh sejarawan dunia. Penulis Barat, Michael H. Hart, dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, menempatkan Nabi Muhammad SAW di peringkat nomor satu, mengungguli Albert Einstein maupun Sayyidina Umar bin Khattab RA.
Prestasi terbesar Rasulullah SAW yang tak tertandingi oleh tokoh mana pun adalah keberhasilannya mengubah masyarakat Jazirah Arab—dari bangsa jahiliyah menjadi masyarakat berperadaban Islam yang berilmu dan beradab—hanya dalam waktu 23 tahun.
Pengaruh dakwah beliau menyebar dengan sangat cepat (washultonuhu bisy-syam). Dalam kurun waktu singkat, kekuasaan dan pengaruh Islam membentang dari Makkah, Madinah (Hijaz), hingga ke Syiria, Oman, bahkan Ethiopia. Belum pernah ada dalam sejarah, seorang manusia yang mampu memberikan pengaruh begitu dahsyat dalam waktu seingkat itu.
Perbandingan Dakwah di Tanah Jawa
Untuk memberikan gambaran betapa luar biasanya pencapaian 23 tahun Rasulullah, KH. Anashom membandingkannya dengan sejarah masuknya Islam di Tanah Jawa:
Bukti Awal Islam di Jawa: Di Jawa, jejak Islam tertua dapat dilihat dari makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M).
Proses Berabad-abad: Sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno, Kalingga, hingga kejayaan Majapahit, Islam membutuhkan waktu berabad-abad untuk berkembang.
Era Wali Songo: Perkembangan pesat baru terjadi setelah runtuhnya Majapahit (sekitar tahun 1419 M dengan hadirnya Syaikh Maulana Malik Ibrahim / Sunan Gresik, hingga berdirinya Kerajaan Demak pada tahun 1478 M dengan candrasangka Sirna Ilang Kertaning Bumi).
Di Tanah Jawa, dakwah Islam membutuhkan waktu ratusan tahun (berabad-abad) melalui perjuangan bertahap para ulama dan Wali Songo. Sedangkan Rasulullah SAW hanya membutuhkan waktu 23 tahun untuk mengubah seluruh Jazirah Arabia secara total. Ini adalah bukti nyata bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia paling hebat dan berilmu sepanjang sejarah.
Tausiyah diakhiri dengan penegasan kembali atas rasa syukur kita menjadi bagian dari umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW:
"Muhammadun basyarun la kal basyari..."
Mugi-mugi kita sedaya pikantuk syafa'atipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW ing dinten akhir. Sampun, cekap semanten


