Oleh: Dr. H. Safrodin, M.Ag.
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo
Begitu Rabiul
Awal tiba, suasana di banyak masjid dan musala di kalangan Nahdliyin terasa
berbeda. Suara shalawat lebih sering terdengar. Jamaah berkumpul membaca Maulid
ad-Diba’i atau Barzanji. Suara rebana mengiringi. Setelah itu,
biasanya ada satu acara yang hampir selalu ditunggu: makan bersama. Itulah
tradisi Maulid Rasul.
Menariknya,
tradisi ini bukan sekadar peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Di dalamnya
terdapat ibadah, silaturahmi, pendidikan, bahkan hiburan yang sehat. Pertanyaannya,
apakah kita sudah mengambil semua makna itu? Atau jangan-jangan kita hanya
sibuk memperingati Maulid, tetapi lupa membawa pulang keteladanan Rasulullah ke
dalam kehidupan sehari-hari?
Dari Shalawat
hingga Persaudaraan
Shalawat menjadi
salah satu menu utama dalam peringatan Maulid. Kalimatnya beragam, nadanya
bermacam-macam, tetapi tujuannya sama: mengungkapkan kecintaan kepada Nabi
Muhammad saw.
Perintah
bershalawat bukan sekadar tradisi masyarakat. Allah SWT memerintahkannya secara
langsung dalam QS Al-Ahzab ayat 56. Nabi Muhammad saw juga memberikan kabar
gembira bahwa orang yang bershalawat kepada beliau satu kali akan mendapatkan
balasan rahmat dari Allah sepuluh kali. Jadi, ada ibadah yang sangat sederhana
dalam tradisi Maulid: duduk bersama, menggerakkan lisan, membaca shalawat, dan
mengingat Rasulullah.
Tetapi Maulid
tidak berhenti di situ. Lihat saja jamaah yang datang. Ada tetangga yang jarang
bertemu. Ada orang tua, anak muda, dan anak-anak. Mereka duduk bersama,
bersalaman, berbincang, lalu makan bersama. Kelihatannya sederhana. Tetapi dari
hal-hal sederhana itulah persaudaraan sering tumbuh.
Di tengah
kehidupan yang semakin sibuk dan individualistis, pertemuan semacam ini justru
penting. Maulid bisa menjadi ruang sosial untuk merawat ukhuwah dan
memperkuat hubungan antarsesama. Kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang bukan
ceramah panjang. Cukup ada orang yang menyapa dan menanyakan kabarnya.
Jangan Hanya
Membaca, tetapi Pahami
Ada satu hal
yang masih bisa dikembangkan dari tradisi Maulid: pendidikan. Kitab Diba’i
dan Barzanji bukan sekadar bacaan yang dilantunkan dengan suara merdu.
Di dalamnya terdapat pujian, kisah kehidupan, keutamaan, dan kemuliaan Nabi
Muhammad saw.
Namun tidak
semua jamaah memahami arti bacaan yang mereka lantunkan. Mereka fasih membaca,
tetapi belum tentu memahami. Padahal, jika isinya dipahami, Maulid bisa menjadi
sekolah kecil untuk mengenal Rasulullah. Karena sulit mengikuti seseorang yang
tidak kita kenal.
Karena itu,
setelah pembacaan Diba’i atau Barzanji, mengapa tidak ditambahkan
tausiyah singkat? Tidak perlu satu jam. Sepuluh atau lima belas menit pun
cukup. Bahas satu kisah Rasul, satu akhlak Rasul, atau satu sunnah Rasul. Lalu
ajak jamaah bertanya: apa yang bisa kita praktikkan dalam kehidupan
sehari-hari? Dengan cara seperti itu, Maulid tidak hanya membuat jamaah
bershalawat, tetapi juga membuat mereka semakin mengenal siapa yang mereka
cintai.
Rebana
sebagai Jalan Dakwah
Ada pula sisi
lain dari Maulid yang sering dianggap sepele: suasananya yang menyenangkan. Suara
shalawat yang merdu, bacaan Diba’i yang dilantunkan bersama, serta irama
rebana membuat suasana menjadi hidup.
Bukankah manusia memang membutuhkan hiburan? Tentu saja. Tetapi hiburan tidak harus menjauhkan seseorang dari nilai agama. Seni dan musik yang baik justru dapat menjadi jalan dakwah, terutama bagi generasi muda.
Anak muda
mungkin tidak selalu tertarik dengan ceramah panjang. Tetapi mereka bisa
tertarik datang karena shalawat dan rebana. Setelah datang, mereka mendengar
kisah Rasul, bertemu dengan jamaah, dan ikut bershalawat.
Dari situlah
dakwah bisa dimulai. Dakwah tidak selalu harus dimulai dari mimbar. Kadang
dimulai dari sebuah shalawat, sebuah pertemuan, bahkan dari sepiring nasi yang
dimakan bersama.
Maulid Bukan
Sekadar Mengingat Kelahiran
Namun ada
pertanyaan yang lebih penting: setelah Maulid selesai, lalu apa? Masjid kembali
sepi. Rebana disimpan. Kitab Barzanji kembali ke rak. Jamaah pulang ke
rumah masing-masing.
Apakah semuanya
selesai? Semestinya tidak. Maulid seharusnya menjadi pintu masuk untuk mengenal
Rasulullah lebih dalam. Dari mengenal lahir cinta. Dari cinta lahir keinginan
untuk mengikuti. Inilah ittiba’.
Mencintai Rasul
bukan hanya menyebut namanya dan memperbanyak shalawat. Cinta kepada Rasul
semestinya terlihat dalam perilaku juga. Rasulullah jujur, maka kita belajar
jujur. Rasulullah amanah, maka kita belajar menjaga amanah. Rasulullah
menyayangi orang lemah, maka kita belajar peduli. Rasulullah menghormati
tetangga, maka kita belajar menghormati tetangga.
Di situlah
Maulid menemukan makna yang lebih dalam. Ukuran keberhasilan Maulid bukan hanya
seberapa ramai jamaah yang hadir atau seberapa merdu shalawat dilantunkan.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah dalam diri kita setelah
Maulid selesai.
Rabiul Awal
Datang, Apa yang Berubah?
Rabiul Awal akan
datang lagi tahun depan. Shalawat akan kembali dilantunkan. Diba’i dan Barzanji
akan kembali dibaca. Rebana kembali ditabuh. Jamaah kembali berkumpul. Semua
itu baik. Tetapi akan jauh lebih baik jika setiap Maulid meninggalkan sesuatu
dalam diri kita.
Setelah Maulid,
kita menjadi lebih rajin bershalawat, lebih dekat dengan masjid, lebih akrab
dengan tetangga, lebih memahami sejarah Rasulullah, lebih lembut kepada
keluarga, lebih jujur dalam bekerja, dan lebih amanah menjalankan tanggung
jawab.
Yang paling
penting, kita semakin berusaha mengikuti Rasulullah dalam kehidupan
sehari-hari. Sebab Maulid jangan berhenti sebagai peringatan. Ia harus menjadi
momentum perubahan.
Mungkin, itulah
cara terbaik merayakan kelahiran seorang Nabi: bukan hanya mengingat kapan
beliau dilahirkan, tetapi berusaha menghadirkan keteladanan beliau dalam
kehidupan kita.



