Harapan dan Tantangan Ulama NU Mendatang

0

 



Oleh:

Dr. H. Safrodin, M.Ag.

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

 

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) 2026 telah ditutup pada 31 Agustus lalu. Pimpinan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pun telah ditetapkan. Ada yang menarik dari muktamar kali ini. Pemilihan pimpinan tidak sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pemungutan suara seperti sebelumnya. Ada AHWA, Ahlul Halli wal Aqdi, sebuah tim khusus yang mewakili para ulama NU.


Harapannya sederhana: muktamar menjadi lebih bersih. Lebih jauh dari tarik-menarik kepentingan. Dan yang paling penting, pemimpin yang lahir benar-benar mencerminkan karakter ulama NU.


Tetapi harapan tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Setelah muktamar selesai, suara skeptis justru bermunculan. Terutama di media sosial. Sebagian warga NU mempertanyakan arah kepemimpinan baru. Bahkan ada kegelisahan yang lebih mendasar: apakah karakter ulama NU seperti yang dikenal dahulu masih akan menjadi wajah utama NU?


Pertanyaan itu tidak muncul begitu saja. Dulu, ketika orang menyebut ulama NU, yang terbayang adalah sosok yang dalam ilmu agamanya sekaligus sederhana hidupnya. Ada ilmu, tetapi juga ada keteladanan. Ada keberanian berbicara, tetapi juga ada kehati-hatian. Ada kedekatan dengan umat, tetapi tidak larut dalam gemerlap kekuasaan.


Nama-nama seperti Mbah Kholil Bangkalan hingga Gus Dur sering dijadikan rujukan. Bukan karena mereka tidak pernah bersentuhan dengan kekuasaan. Justru karena mereka mampu berhubungan dengan kekuasaan tanpa kehilangan independensi moralnya. Di sinilah persoalannya.


Ulama Bukan Sekadar Orang Berilmu

Dalam tradisi pesantren, ulama tidak cukup hanya pintar membaca kitab. Ilmu harus menjelma menjadi akhlak. Ulama adalah pewaris para nabi. Artinya, bukan hanya ilmu yang diwarisi, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran dan menjadi teladan bagi umat.


Karena itu, ulama ideal bukan sekadar tafaqquh fi al-din—memahami agama secara mendalam. Ilmunya harus melahirkan amal. Dari sana lahir sifat wara', zuhud, arif dan takut kepada Allah. Dalam Nasaih al-'Ibad, Imam Nawawi menggambarkan tingkatan orang-orang berilmu: mereka yang memahami agama dan mengamalkannya, para ahli hikmah yang memiliki ma'rifat kepada Allah, hingga ulama besar yang menggabungkan kedalaman ilmu dengan ma'rifat.


Intinya satu: ilmu tidak boleh berhenti di kepala. Ia harus terlihat dalam kehidupan. Itulah prototipe ulama yang selama ini hidup dalam imajinasi warga Nahdliyin. Kyai yang menguasai kitab kuning, tetapi juga menjaga kesederhanaan. Kyai yang dihormati karena ilmunya, bukan karena kekayaannya. Kyai yang sangat hati-hati terhadap rezeki, bahkan terhadap sesuatu yang masih samar kehalalannya.


Masyarakat tidak menuntut kyai harus miskin. Yang dituntut adalah jangan sampai kemewahan menjadi identitas. Sebab ketika kemewahan terlalu menonjol, sementara kesederhanaan semakin hilang, jarak dengan umat pun bisa melebar.


Ketika Ulama Terlalu Dekat dengan Kekuasaan

Persoalan berikutnya adalah politik. NU bukan organisasi yang asing dengan politik. Sejarahnya panjang. Pada masa Orde Lama, NU pernah berada dalam pusaran politik. Pada masa Orde Baru, NU justru mengambil jarak dari kekuasaan, dengan segala konsekuensinya.


Pada era reformasi, hubungan NU dengan politik kembali berubah. Puncaknya ketika Gus Dur menjadi Presiden RI keempat. Tetapi ada satu hal yang menarik dari Gus Dur. Menjadi presiden tidak membuatnya kehilangan karakter sebagai ulama. Kesederhanaannya tetap terlihat. Gaya hidupnya tidak berubah menjadi simbol kemewahan. Dan yang lebih penting, ia tetap memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu yang diyakininya benar, sekalipun berhadapan dengan kepentingan politik.


Di situlah ukuran independensi ulama. Masuk ke dalam lingkaran kekuasaan bukan dosa. Bahkan bisa menjadi jalan untuk memperjuangkan kemaslahatan umat dan bangsa. Yang menjadi masalah adalah ketika kedekatan itu membuat ulama kehilangan kemampuan untuk mengatakan "tidak". Ketika kritik berubah menjadi pembenaran. Ketika kepentingan umat kalah oleh kepentingan kelompok. Dan ketika ulama justru terlihat lebih sibuk mempertahankan hubungan dengan penguasa daripada mengingatkan penguasa.


Ulama seharusnya dekat dengan kekuasaan, tetapi tidak boleh menjadi bagian dari kekuasaan secara membabi buta. Ia boleh berada di samping penguasa. Tetapi ketika penguasa salah, ia harus berani mengatakan salah. Itulah fungsi moral ulama.\


Kecemasan NU Kultural

Mungkin di sinilah sumber kegelisahan sebagian warga NU kultural. Mereka tidak sedang menuntut NU kembali ke masa lalu. Mereka hanya ingin karakter dasar ulama NU tidak hilang ditelan zaman. Modernisasi bukan masalah. Politik bukan masalah. Kekayaan juga bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika semuanya itu membuat ulama kehilangan zuhud, kehilangan wara', dan kehilangan keberanian moral.


NU memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Jaringan pesantren, madrasah, masjid, kyai, santri dan warga Nahdliyin tersebar hampir di seluruh negeri. Tetapi modal sebesar itu bisa kehilangan makna jika NU kehilangan kepercayaan moral. Karena masyarakat tidak hanya membutuhkan organisasi yang besar. Masyarakat membutuhkan tempat bertanya, membutuhkan suara yang jernih, membutuhkan orang yang berani mengingatkan ketika semua orang memilih diam.


Mengembalikan Marwah Ulama

Maka tantangan kepemimpinan NU ke depan sesungguhnya bukan sekadar bagaimana mengelola organisasi. Bukan pula hanya bagaimana memperkuat struktur. Tantangan terbesarnya adalah mengembalikan marwah ulama.


Ulama NU harus kembali dikenal karena kedalaman ilmunya sekaligus keteladanan hidupnya. Karena keluasan wawasannya sekaligus kesederhanaannya. Karena kedekatannya dengan umat sekaligus keberaniannya menjaga jarak moral dari kekuasaan.


NU tidak harus menjauhi pemerintah. Justru sebaliknya, NU harus hadir di tengah pemerintah jika kehadiran itu membawa maslahat bagi umat dan bangsa. Tetapi kedekatan tidak boleh menghilangkan daya kritis. Ulama boleh duduk bersama penguasa. Tetapi jangan sampai lupa bahwa tugas ulama bukan menjadi pengikut penguasa.


Tugas ulama adalah menjaga agar kekuasaan tetap berada di jalan yang benar. Mungkin inilah harapan terbesar warga NU kepada kepemimpinan baru. Bukan sekadar NU yang lebih besar. Bukan sekadar NU yang lebih kuat. Tetapi NU yang kembali dipercaya dan kepercayaan itu tidak lahir dari jabatan. Ia lahir dari ilmu, akhlak, kesederhanaan, keberanian dan keteladanan. Itulah marwah ulama.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top