Oleh: Agus
Khunaifi
Ketua Mwcnu Ngaliyan Kota Semarang
Memasuki tahun baru
2026, warga Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang merasakan atmosfer internal yang
kian menghangat. Kehangatan ini tentu bukan semata dipengaruhi oleh karakter
iklim Kota Semarang yang dikenal panas. Akan tetapi terkait dinamika
kepengurusan PC NU Kota Semarang yang akan berakhir pada November mendatang.
Momentum tersebut menjadi krusial karena warga nahdliyin akan dihadapkan pada
proses suksesi kepengurusan di tingkat kota.
Proses ini bukan sekadar pergantian pengurus
struktural, melainkan fase strategis yang akan menentukan arah, orientasi, dan
peran NU Kota Semarang dalam menjawab tantangan keumatan dan kebangsaan pada
periode mendatang. Suksesi kepengurusan NU di Kota Semarang bukan sekadar
pergantian figur pengurus, melainkan peristiwa penting yang menyangkut
keberlanjutan peran sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Sebagai organisasi
keagamaan terbesar, NU memiliki posisi strategis dalam dinamika sosial-politik
perkotaan, khususnya di Kota Semarang yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi,
dan budaya propinsi Jawa Tengah.
Idealnya, sosok pemimpin
NU di tingkat kota menuntut kualifikasi yang tidak sederhana. Hal ini
dikarenakan kondisi masyarakat kota Semarang yang memiliki latarbelakang
sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya yang heterogin dan probelamtika
perkotaan yang kompleks.
Meski belakangan
mulai muncul manuver-manuver politik secara terselubung, hingga kini belum ada
figur yang secara terbuka dan tegas menyatakan diri siap tampil sebagai calon
pemimpin NU Kota Semarang. Situasi ini justru menjadi ruang refleksi bersama:
pemimpin seperti apa yang benar-benar dibutuhkan NU ke depan?
Saat ini di
bawah kepemimpinan ketua PCNU Kota Semarang, Dr. K.H. Anasom, M.Hum., yang
berlatar belakang akademisi sekaligus pengasuh pondok pesantren, Nahdlatul
Ulama Kota Semarang menunjukkan performa organisasi yang relatif solid dan
berwibawa. Perpaduan antara kapasitas intelektual dan tradisi pesantren tersebut
menjadi modal penting bagi NU kota Semarang dalam memainkan peran publik secara
elegan dan proporsional.
Bersama Rais Syuriyah K.H. Hanif Ismail, Lc., PCNU Kota Semarang mencatat sejumlah kemajuan yang signifikan, antara lain terbangunnya relasi kelembagaan yang konstruktif dengan Pemerintah Kota, berjalannya berbagai program keumatan secara berkelanjutan, serta semakin nyatanya kontribusi NU dalam menjaga stabilitas sosial dan harmoni kehidupan keagamaan.
Capaian-capaian tersebut menjadi tolok
ukur penting bagi kepengurusan NU ke depan. Meski demikian, sebagai ikhtiar
manusiawi, kepengurusan sekarang tentu tidak lepas dari berbagai keterbatasan
yang perlu terus dievaluasi dan disempurnakan.
Selama ini,
Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang berperan sebagai mitra strategis Pemerintah
Kota dalam mendukung agenda pembangunan yang berorientasi pada penguatan
sosial-keagamaan dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu capaian pentingnya
adalah inisiatif pemugaran makam K.H. Sholeh Darat yang dikembangkan sebagai
destinasi wisata religi-edukatif, sebuah langkah konkret yang mengintegrasikan
nilai keagamaan, sejarah, serta penguatan ekonomi masyarakat sekitar.
Di saat yang
sama, NU Kota Semarang juga berada di garda terdepan dalam menjaga kondusivitas
kota dengan membendung penetrasi paham Islam radikal dan ekstrem yang
berpotensi menggerus harmoni sosial dan kebhinekaan.
Selain mencatat capaian program nonfisik, kepengurusan saat ini juga menorehkan keberhasilan signifikan dalam pembangunan infrastruktur organisasi. Salah satu pencapaian penting adalah rampungnya pembangunan gedung PCNU berlantai empat yang diresmikan baru-baru ini pada 24 Februari 2026 oleh Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf.
Di bidang pengembangan pendidikan keagamaan, kepemimpinan ini juga berhasil
mendirikan Pondok Pesantren K.H. Sholeh Darat serta Madrasah Aliyah Kejuruan
(MAK) NU 01 yang berlokasi di Desa Palir, Kelurahan Podorejo, Kecamatan
Ngaliyan. Bahkan
Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan tersebut dinilai strategis dalam memperkuat peran NU di Kota Semarang, sekaligus meneguhkan citra kota ini sebagai pusat keilmuan Islam yang memiliki akar historis dan intelektual kuat melalui warisan ulama besar Semarang.
Sejalan dengan upaya tersebut, NU Kota Semarang bersama berbagai pihak terkait juga tengah menginisiasi pengusulan K.H. Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi besarnya bagi keislaman dan kebangsaan.
Karakteristik masyarakat Kota Semarang sebagai wilayah perkotaan menuntut peran NU yang lebih adaptif. Kota ini memiliki tingkat heterogenitas sosial-ekonomi yang tinggi, tuntutan pendidikan yang semakin kompleks, serta kesenjangan ekonomi yang masih cukup lebar. Dalam konteks ini, NU dituntut hadir bukan hanya sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan sosial yang peka terhadap problem-problem perkotaan.
Secara khusus,
NU Kota Semarang idealnya menempatkan diri sebagai penyeimbang kekuasaan. NU
perlu menjaga jarak yang proporsional dengan pemerintah maupun partai politik
praktis. Tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak berseberangan. Posisi tengah
inilah yang memungkinkan NU menjalankan peran secara independen, elegan, dan
bermartabat menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah.
Karena itu,
pemimpin NU Kota Semarang ke depan haruslah sosok yang memiliki kemampuan
komunikasi lintas kalangan. Ia harus mampu menjembatani kepentingan ulama,
umara, kalangan swasta, akademisi, hingga masyarakat akar rumput. Kemampuan
membangun dialog, merawat jejaring, dan menyatukan perbedaan menjadi modal
utama agar NU tetap relevan dan dipercaya publik.
Akhirnya,
suksesi kepengurusan NU Kota Semarang seharusnya dimaknai sebagai ikhtiar
kolektif untuk menjaga khidmah NU bagi umat dan bangsa. Bukan sekadar ajang perebutan
posisi secara pragmatis melainkan upaya menghadirkan figur pemimpin yang
berakhlak, visioner, dan mampu membaca tantangan zaman. Warga nahdliyin tentu
berharap, dari proses ini akan lahir pemimpin terbaik yang adaftif dan matang
secara moral dan sosial.


