Refleksi Isra Mikraj dan Tantangan Literasi Digital

0

 


 

Oleh: Agus Khunaifi

Dosen Pendidikan Islam FITK UIN Walisongo Semarang

 

Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang menandai puncak pengalaman spiritual Rasulullah. Peristiwa yang terjadi pada tahun kedua kenabian ini menegaskan keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya manusia yang dianugerahi perjalanan transendental dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga Sidratul Muntaha. Jumhur ulama sepakat bahwa Isra Mikraj merupakan peristiwa khusus yang hanya dialami Nabi SAW, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah perjalanan tersebut berlangsung secara jasmani dan ruhani sekaligus atau hanya secara ruhani. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra, dan menjadi sumber refleksi teologis serta peradaban bagi umat Islam sepanjang zaman.


Dalam khazanah keilmuan Islam, Isra Mikraj sejak awal dipahami sebagai peristiwa yang melampaui batas rasionalitas manusia. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menegaskan bahwa akal memiliki wilayah kerja yang terbatas, sementara wahyu hadir untuk membimbing manusia pada realitas yang berada di luar jangkauan rasio. Dengan perspektif ini, Isra Mikraj bukan untuk diperdebatkan secara positivistik, melainkan direnungkan sebagai tanda kebesaran Allah sekaligus ujian epistemologis bagi manusia.


Dari sudut pandang historis, perjalanan sejauh sekitar 1.471 kilometer dari Makkah ke Yerusalem dalam satu malam, bahkan berlanjut hingga menembus lapisan langit ke tujuh, jelas mustahil dilakukan dengan teknologi abad ke-7. Namun, mukjizat justru berfungsi menegaskan keterbatasan akal manusia. Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menegaskan bahwa Isra Mikraj adalah peristiwa nyata yang harus diimani, meskipun tidak seluruh dimensinya dapat dijelaskan secara logis. Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan antara penggunaan akal dan kepasrahan iman.


Secara akidah, Isra Mikraj merupakan ujian keimanan yang sangat nyata. Peristiwa ini mengguncang nalar masyarakat Arab saat itu. Sahabat Abu Bakar bahkan mendapat gelar ash-Shiddiq karena sikapnya yang langsung membenarkan Isra Mikraj tanpa ragu. Sikap ini menunjukkan bahwa iman yang matang tidak menempatkan akal sebagai hakim tunggal kebenaran, melainkan sebagai instrumen yang tunduk pada wahyu. Sebaliknya, bagi mereka yang imannya rapuh, Isra Mikraj justru menjadi sumber keraguan dan penolakan.

 

Refleksi Isra Mikraj menjadi semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks era digital saat ini. Masyarakat modern hidup di tengah banjir informasi, dominasi algoritma media sosial, serta budaya instan yang sering kali memuja rasionalitas sempit dan data statistik sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Lemahnya literasi digital menjadikan ruang publik digital dipenuhi hoaks, misinformasi, dan perang narasi. Kebenaran tidak lagi diukur dari kedalaman makna dan nilai, melainkan dari viralitas dan jumlah klik.


Dalam konteks inilah pesan Isra Mikraj menemukan urgensinya. Peristiwa ini mengajarkan fondasi penting literasi digital: kesadaran akan keterbatasan akal dan pentingnya kebijaksanaan dalam menyikapi informasi. Imam Al-Syathibi dalam Al-Muwafaqat menekankan bahwa kebenaran harus dipahami melalui integrasi akal, wahyu, dan tujuan etis (maqashid al-syari’ah). Prinsip ini sejalan dengan kebutuhan literasi digital hari ini, di mana tidak semua yang tampak rasional harus diterima tanpa kritik, dan tidak semua yang tampak irasional harus serta-merta ditolak.


Isra Mikraj juga menegaskan bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi rasional dan irasional yang saling melengkapi. Di era digital yang sangat menuhankan data dan logika algoritmik, dimensi iman, nilai, dan spiritualitas sering kali terpinggirkan. Padahal, tanpa fondasi nilai, teknologi justru berpotensi melahirkan dehumanisasi: ujaran kebencian, polarisasi sosial, dan krisis empati yang semakin nyata di ruang digital. Pemikir Muslim kontemporer seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan bahwa krisis modernitas bukan terletak pada kurangnya ilmu, melainkan hilangnya adab dalam memaknai ilmu.


Lebih jauh, Isra Mikraj melahirkan perintah shalat sebagai pilar utama kehidupan spiritual umat Islam. Shalat menunjukkan harmoni antara dimensi transendental dan rasionalitas. Ia mengajarkan disiplin waktu, kebersihan diri dan lingkungan, ketenangan batin, serta keteraturan hidup. Dalam konteks literasi digital, shalat dapat dibaca sebagai latihan kesadaran (mindfulness) yang membebaskan manusia dari kecanduan gawai dan distraksi digital. Shalat menghadirkan jeda spiritual di tengah hiruk-pikuk arus informasi yang nyaris tanpa henti.


Perubahan fungsi media sosial yang kini kerap menjadi arena perebutan wacana dan konflik identitas semakin menegaskan urgensi refleksi Isra Mikraj. Kebenaran di ruang digital tidak cukup dikendalikan oleh rasio teknologis semata, tetapi harus berpijak pada paduan akal, iman, dan etika. Tanpa itu, media sosial mudah berubah menjadi ruang manipulasi, bukan ruang pencerahan.

 

Dengan demikian, refleksi Isra Mikraj di era digital tidak berhenti pada ritual tahunan dan peringatan simbolik. Ia merupakan kritik kultural terhadap cara manusia modern memaknai kebenaran, pengetahuan, dan teknologi. Isra Mikraj mengingatkan bahwa literasi digital harus dibangun di atas keseimbangan antara akal, iman, dan nilai etis. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan teknologi justru berisiko memperdalam krisis makna dalam kehidupan manusia.


Pada akhirnya, Isra Mikraj menegaskan bahwa peradaban yang maju tidak semata diukur dari kecanggihan teknologi, melainkan dari kemampuan manusia menjaga nilai, iman, dan kemanusiaannya. Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, pesan spiritual Isra Mikraj menjadi kompas moral agar manusia tidak kehilangan arah dalam membangun masa depan yang berkeadaban.

Wallahua'lam bishaub

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top