![]() |
| Sumber foto: Artikel Nuonline |
Semarang — Prof. Dr. KH Ahmad Izzudin menegaskan pentingnya menyikapi perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Syawal dengan sikap ilmiah dan kebijaksanaan dalam kajian yang digelar pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Masjid Islamic Centre Baiturrahman Semarang.
Dalam kajian tersebut, Prof. Dr. KH Ahmad Izzudin, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Dosen Ilmu Falak se-Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Ilmu Falak Asia Tenggara, mengulas secara komprehensif persoalan hisab dan rukyat yang kembali menjadi perhatian umat Islam menjelang Ramadhan dan Idulfitri 1447 H.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan dimensi tempat dan waktu di berbagai belahan dunia berpengaruh besar terhadap penetapan awal bulan Hijriah. “Di Indonesia, misalnya, ada kemungkinan sebagian umat berpuasa hingga 19 Maret dan ada pula yang merayakan Idul Fitri pada 21 Maret 2026. Hal ini sangat terkait dengan hasil hisab dan keputusan sidang isbat,” ujarnya.
Menurutnya, pembahasan ilmu falak tahun ini menjadi lebih eksklusif karena pada 17 Februari posisi bulan masih berada pada usia 29 Syaban. Sementara itu, ketinggian hilal di awal Ramadhan secara astronomis masih berada di bawah ufuk di sebagian wilayah Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan wilayah lain di dunia yang menggunakan kalender Hijriah global tunggal, seperti Alaska, yang secara waktu lebih awal mengalami pergantian hari.
Prof. Izzudin juga memaparkan bahwa negara-negara Asia Tenggara pada prinsipnya telah menyepakati kriteria wujudul hilal dengan batas minimal 3 derajat. Kesepakatan ini bertujuan agar wilayah hukum Islam dapat menetapkan awal bulan secara bersama-sama. Namun, ia mengingatkan bahwa tetap diperlukan ijtihad kolektif melalui forum resmi seperti sidang isbat.
Terkait Idul Fitri, ia menyebut bahwa awal Syawal 1447 H diperkirakan cukup “ramai” karena adanya perbedaan metode. Muhammadiyah, misalnya, diperkirakan menetapkan Idul Fitri pada 20 Maret 2026, sementara mayoritas umat Islam di Indonesia berpotensi merayakannya pada 21 Maret 2026 setelah sidang isbat digelar.
“Hisab memberikan data yang sangat akurat, tetapi keputusan akhir tetap menunggu sidang isbat yang menghadirkan para pakar, ulama, dan ahli falak. Secara bocoran ilmiah, peluang wujudul hilal sangat besar sehingga 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan teknologi dalam pengamatan hilal diperbolehkan selama bertujuan menguatkan ibadah dan tidak mengganggu keabsahan syariat. “Hilal secara astronomi bersifat nisbi bagi manusia, tetapi mutlak dalam kehendak Allah,” tuturnya.
Menutup kajian, Prof. Izzudin mengajak umat Islam untuk menyikapi perbedaan dengan kedewasaan. Bagi kalangan awam, ia menyarankan mengikuti keputusan ijtihad kolektif pemerintah melalui sidang isbat sebagai pilihan yang paling aman. “Perbedaan adalah bagian dari khilafiyah. Yang terpenting, persatuan umat dan kekhusyukan dalam beribadah tetap terjaga,” pungkasnya. Link youtube:
https://youtu.be/ch0elxVtAIE



